24 April 2026
Kotawaringin Timur – Hari Jumat (24/4/2026) kemarin menjadi momen bersejarah bagi dunia pendidikan di Kalimantan Tengah. Bupati Kotawaringin Timur, Bapak Halikinnor, secara resmi memimpin peletakan batu pertama pembangunan SD Alam Bumi Khatulistiwa. Berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman KM 8,5, Sampit, sekolah ini membanggakan diri sebagai sekolah alam pertama yang ada di Bumi Tambun Bungai.
Bagi Pemerintah Kabupaten Kotim, proyek yang digagas oleh Yayasan Pelita Bumi Khatulistiwa ini bukan sekadar pembangunan gedung biasa. Ini adalah investasi jangka panjang untuk mencetak generasi yang lebih berkualitas.
“Hari ini kita hadir bukan cuma buat melihat gedung sekolah baru dibangun, tapi kita sedang membersamai lahirnya harapan baru bagi masa depan anak-anak kita di Kotim,” ujar Bupati Halikinnor dengan penuh semangat.
Misi Mengembalikan Kejayaan “Emas Hijau”
Salah satu visi unik dari sekolah ini adalah keinginan untuk mendekatkan kembali anak-anak dengan identitas daerahnya. Dulu, Kotim sangat tersohor sebagai penghasil kayu berkualitas atau yang dikenal dengan istilah “Emas Hijau”. Ironisnya, anak zaman sekarang banyak yang tahu kayu ulin setelah jadi papan, tapi tidak tahu seperti apa bentuk pohonnya di hutan.
Bupati Halikinnor berharap, lewat sekolah alam ini, siswa bisa mengenal kembali kekayaan alam asli daerah. Beliau bahkan berencana menggandeng Dinas Lingkungan Hidup untuk menyediakan bibit pohon asli lokal di area sekolah agar anak-anak bisa belajar langsung di sana.
Belajar Tanpa Batas: Standar Global, Jiwa Lokal
Ketua Yayasan Pelita Bumi Khatulistiwa, Ibu Ida Oetari Poernamasasi, menjelaskan bahwa alam adalah ruang belajar yang prosesnya tidak pernah berakhir (never ending process). Itulah alasan mengapa sekolah ini dirancang sangat menarik dengan fasilitas:
Ruang Kelas Terbuka: Biar belajar nggak sumpek dan membosankan.
Area Praktik: Ada kolam renang, area pertanian, hingga peternakan.
Kurikulum Inovatif: Berkolaborasi dengan lembaga Al Hikmah Surabaya dan menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar.
Meski standarnya internasional, Ibu Ida menegaskan bahwa sekolah ini tidak akan melupakan akar budaya. Arsitekturnya akan mengusung konsep Rumah Betang dan mengangkat kearifan lokal Tambun Bungai sebagai identitas utama.
Pendidikan sebagai Amal Jariyah
Bupati Halikinnor juga memberikan pesan menyentuh bahwa berkontribusi di dunia pendidikan nilainya setara dengan membangun tempat ibadah. “Ini bisa jadi amal jariyah kita. Karena manfaat ilmu itu akan terus mengalir bagi generasi mendatang,” tambahnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Kotim, Ibu Yolanda Lonita Fenisia, menambahkan bahwa hadirnya sekolah alam ini memberikan pilihan yang semakin beragam bagi masyarakat. Ia juga memastikan bahwa sistem pembelajaran di sini sangat mendukung program pemerintah yang mengedepankan pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan (joyful learning).
Menatap Masa Depan
Untuk tahap awal, sekolah akan fokus pada pembelajaran hingga sore hari (full day school). Namun ke depannya, pihak yayasan sudah berencana mengembangkan sistem asrama atau boarding school.
Dengan mulainya pembangunan SD Alam Bumi Khatulistiwa ini, Sampit tidak hanya sekadar membangun sekolah, tapi sedang menyiapkan pemimpin masa depan yang cerdas secara intelektual, tangguh karakternya, dan punya cinta yang besar pada alam lingkungannya.